Hadiah Natal dari UNTAR untuk Desa Putera
Tahun 2011 telah tiba. Di tahun yang baru, banyak orang mempunyai semangat baru, niat yang baru, harapan baru, berpikir baru dan bertindak secara baru pula. Semua yang berbau baru ingin dicapai dan ingin dijalaninya. Hari Rabu 5 Januari 2011, Panti Asuhan Desa Putera mengawali
kegiatannya di tahun yang baru ini dengan pertemuan orang tua/wali anak-anak yang tinggal di Panti Asuhan. Dalam pertemuan tersebut mengundang Tim Psikologi dari Universitas Tarumanegara untuk memberikan pencerahan kepada wali/orang tua anak-anak panti asuhan. Narasumber yang memberikan pencerahan adalah Bapak Tommy dan Ibu Debora. Beliau adalah Dosen Pasca Sarjana Fakultas Psikologi Universitas Tarumanegara. Ikut memberikan masukan juga, Mbak Conny, Yuvita dan Vita, Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Psikologi yang selama ini membantu mendampingi anak-anak Panti Asuhan Desa Putera dengan pendekatan psikologi anak. Bapak Tommy dan Ibu Debora memaparkan tentang “Peran Pengasuhan Wali/Orangtua Pada Anak Yang Tinggal Di Panti Asuhan”. Sementara Mbak Conny, Yuvita dan Vita mensharingkan pengalamannya selama mendampingi anak-anak di Panti Asuhan Desa Putera.Hadir juga ikut memberikan semangat Ibu Tien Sutadi dan Bapak Nico Wartomo sebagai Pengurus Perhimpunan Vincentius Jakarta.
Menarik! Para wali/orangtua cukup serius mendengarkan penjelasan dari narasumber. Ibu Debora mengingatkan kepada para wali/orangtua yang anaknya tinggal di panti asuhan bahwa Panti Asuhan adalah sebagai pengganti sementara peran orangtua dalam memberikan pendidikan dan pembinaan anak. Meskipun anaknya tinggal di panti asuhan, wali/orangtua tetap sebagai pemeran utama dalam menumbuhkembangkan anak kata Ibu Debora. Sebaiknya tidak lepas tangan, sepenuhnya mempercayakan anaknya kepada Panti Asuhan. Sebelum anak masuk panti asuhan, keluarganyalah yang paling mengetahui pertumbuhan anak. Sesudah anak menjadi dewasa dan keluar dari panti asuhan, maka anak tersebut akan kembali ke keluarganya. Untuk itu wali/orangtua, diharapkan tetap menjalin komunikasi, memberikan perhatian anak-anaknya yang tinggal di panti asuhan. Selanjutnya Mbak Conny, Yuvita dan Vita mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Psikologi menyampaikan pengalamannya selama mendampingi anak-anak panti asuhan Desa Putera. Sebetulnya anak-anak panti asuhan memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan. Mereka cukup mandiri, pintar dan mampu mengexpresikan bakat dan kemampuannya di panti asuhan. Namun karena terpengaruh oleh permasalahan keluarganya maka potensi tersebut terhambat pekembangannya. Semoga dengan pendidikan dan pendampingan di panti asuhan, anak-anak mampu menumbuhkembangkan kemampuannya.
Dalam sesi interaktif, tanya jawab, banyak yang bertanya tentang problem pandampingan dan pendidikan anaknya. Ada juga yang curhat tentang permasalah keluarga sehingga anaknya terpaksa dititipkan di panti asuhan. Tidak terasa waktu menunjukkan jam 12.30 berarti telah setengah jam melewati batas waktu yang direncanakan. Akhirnya panitia terpaksa menjatuhkan break time untuk makan siang.
-
Klik/perbesar
Klik/perbesar
-
Klik/perbesar
Klik/perbesar
-
Klik/perbesar
Klik/perbesar
-
Klik/perbesar
Klik/perbesar
-
Klik/perbesar
Klik/perbesar
Sesudah makan siang, pertemuan dilanjutkan lagi tepat jam 13.00. Sesi ini diisi oleh pengasuh anak-anak untuk menyampaikan tata tertib. Bp. Alex Malur, Bp. Paulus Sardjono dan Ibu Kiki laksmini mewakili pengasuh menyampaikan pengalamannya selama mendampingi anak-anak di panti asuhan. Pengasuh mengajak wali/orangtua untuk kerja sama dalam pembinaan anak-anak. Sebagai contoh: anak yang sudah besar biasanya dijinkan pulang sendiri ternyata tidak sampai di rumahnya dan menginap di rumah temannya. Untuk mengatasi permasalah ini diperlukan komunikasi antara panti asuhan dan wali anak. Tentang kemandirian yang ditanamkan di panti sebaiknya didukung oleh wali anak. Contohnya: anak yang sudah besar (SMP-STM) mencuci pakaiannya sendiri di panti. Ternyata masih ada anak kalau libur semua pakaiannya dibawa pulang untuk dicuci oleh walinya. Hal ini tidak mendukung kemandirian anak. Contoh lain untuk anak-anak kecil (SD kelas 1-3), dipanti telah terbiasa sehabis makan mencuci piringnya sendiri, mengelap meja makan dan menyapu ruangan. Diharapkan kalau libur di rumah juga mengerjakan hal serupa seperti di panti. Dengan demikian hal-hal positip pendidikan kemandirian anak dapat ditumbuhkembangkan.
Usaha untuk memberikan pendidikan, pengasuhan, pendampingan dan pembinaan diperlukan kerjasama dari berbagai pihak demikian dikatakan oleh Br. Tarcisius, BM sebagai pemimpin panti asuhan Desa Putera. Br. Tarcis berusaha menggiatkan kerjasama antara panti asuhan, wali/orangtua dan para guru di sekolah. Disamping itu panti Asuhan Desa Putera juga bekerjasama dengan bina iman paroki. Kerja sama khusus juga dengan Universitas Tarumanegara Fakultas Psikologi. Sehubungan kerjasama dengan UNTAR, Br. Tarcis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Tommy Y.S. Suyasa dan Ibu Debora Basaria yang pada hari ini berkenan memberikan pencerahan kepada para wali/orangtua anak. Kegiatan ini adalah “Hadiah Natal dan Tahun Baru dari UNTAR untuk Desa Putera”. Tidak lupa kami ucapkan kepada para Mahasiswa Pasca Sarjana Fakultas Psikologi UNTAR yang telah mendampingi anak-anak panti asuhan Desa Putera. Semoga Tuhan memberkati kita dan karya baik kita semua.
Last Updated (Tuesday, 13 December 2011 05:49)









SD Budi Mulia berada di dalam komplek Desa Putera dan berada dalam satu lokasi dengan SMP Budi Mulia. Sekolahan ini menampung anak-anak panti Asuhan Desa Putera yang bersekolah di tingkat SD. Selain itu, sekolah SD Budi Mulia juga menerima dan mendidik anak didik dari luar panti asuhan.
SMP Budi Mulia berada di dalam komplek Desa Putera. Sekolahan SMP berada pada sisi selatan dengan suasana yang sejuk dan nyaman untuk proses belajar mengajar.
Sebagai sarana penunjang pendidikan anak asuh, dibangunlah secara bertahap sarana pendidikan. Pada tahun 1947 didirikan Sekolah Rakjat Desa Poetra, tidak hanya sebagai tempat belajar anak-anak Panti Asuhan, namun juga masyarakat sekitar. Selanjutnya pada tahun 1950, didirikan Sekolah Guru Bawah (SGB) Desa Putra oleh Br. Juvenalis. Dengan 15 orang murid, awal dari sekolah lanjutan di Desa Putera. Karena adanya perubahan sistem persekolahan yang di terapkan pemerintah, maka SGB terpaksa harus ditutup pada tahun 1960. sebagai gantinya adalah didirikan SMP Desa Putera tanpa kehilangan subsidi dari pemerintah.
Pada mulanya SMKG Desa Putera hanya digunakan untuk pelatihan siswa tapi pada perkembangan selanjutnya SMKG Desa Putera memberanikan menerima order cetakan. Keuntungan yang diterima di subsidi silang untuk menekan biaya praktikum siswa, perawatan mesin, kesejahteraan guru/instruktur dan karyawan unit percetakan serta sebagian disimpan untuk membeli mesin-mesin baru.
Karya kesehatan di Desa Putera dimulai oleh Br. Hypolitus, BM yang suka menolong orang-orang kampung melalui pengobatan penyakit ringan. Pada tahun 1960 pemerintah memberikan ijin secara resmi untuk membuka poliklinik. Seiring dengan perjalanan waktu, jumlah pasien yang datang ke poliklinik semakin banyak, maka poliklinik Desa Putera diperluas lagi dan pada tahun 1973 statusnya berubah menjadi Puskesmas (Health Centre). Waktu berjalan terus hingga saat ini pelayanan kesehatan tersebut semakin dilengkapi dengan peralatan yang memadai seperti peralatan rontgen dan kamar-kamar pasien yang memadai. Untuk itu statusnya bukan lagi puskesmas tetapi telah berubah menjadi Balkesmas.Kehadiran Balkesmas di Desa Putera dapat memberikan pelayanan kesehatan kepada anak-anak panti asuhan dan masyarakat sekitar, bahkan datang juga pasien dari tempat-tempat jauh khususnya pasien penderita TBC. Kini Balkesmas Desa Putera buka 24 jam


