Negeri Pelangi
Gerakan negeri pelangi lahir dari pengalaman 30 tahun lebih komunitas Sant Egidio berkarya bersama anak-anak, remaja dan orang muda. Negeri pelangi melambangkan dunia masa depan. Negeri pelangi merupakan sebuah proposal untuk membangun bersama dunia yang lebih adil dan manusiawi, dunia yang penuh solidaritas,
saling menghormati dan menghargai alam.
Gerakan ini dibuat untuk anak-anak, remaja dan orang-orang muda dengan menyajikan acara-acara bercirikan solidaritas, perdamaian, keberadaan diantara orang-orang yang berbeda, saling menghormati dan perlindungan terhadap alam. Gerakan ini lahir dari pengalaman bahwa anak-anak dan remaja sulit menerima perbedaan yang ada. Dalam gerakan ini anak-anak dan remaja diajak untuk bekerja sama dengan tetangganya yang miskin dan teman-teman yang berbeda, untuk saling mengisi dan mengatasi diskriminasi.
Pada hari ini Minggu 3 Juli 2011 Sant egidio kembali menyelenggarakan acara negeri pelangi di kompleks Panti Asuhan Desa Putera Srengseng Sawah Jagakarsa Jakarta Selatan. Sekita 600 anak-anak dan remaja dari berbagai sudut kota Jakarta hadir mengikuti acara ini. Mereka datang dari berbagai panti asuhan, anak-anak jalanan dan anak-anak kelompok binaan komunitas Sant Egidio.
Manifesto anak Negeri Pelangi
Kami adalah anak-anak dari seluruh dunia. Kami ingin mengubah dunia. Kami tidak menyukai dunia yang ada sekarang penuh dengan hal-hal yang indah, tetapi terlalu banyak orang yang menderita karena lapar, perang, perbedaan warna kulit karena orang kuat ingin menghancurkan yang lebih lemah. Planet kita ini penuh dengan hal-hal yang indah, tetapi selalu dipenuhi dengan sampah dan udara serta air yang semakin kotor.
Kami ingin dunia yang lebih adil dan manusiawi, tanpa perpecahan antar bangsa antara orang putih, hitam, kuning, gelap, antara orang kaya dan miskin, antara orang muda dan tua. Kami ingin membangun sebuah dunia yang lebih bersih, dimana pulusi tidak mengotori hutan dan air, dimana ada ruang untuk semua warna dan bagi semua orang.
Kami ingin hidup damai. Kami tidak suka tumbuh dewasa di dunia yang penuh peperangan. Perang adalah suatu kebodohan karena orang yang menang pun tetap menderita dan selalu dicekam rasa takut. Kami ingin mengatakan kepada semua orang bahwa lebih penting menyelamatkan dunia daripada memiliki banyak uang. Lebih baik kekerangan sehelai baju dan sepasang sepatu daripada membiarkan anak-anak bekerja sebagai budak di banyak bagian dunia.
Kami adalah sahabat bagi setiap orang, juga bagi mereka yang dijauhi. Kami adalah sahabat bagi para lansia, karena kami merasa tidak adil kalau mereka selalu tinggal s endirian. Kami adalah sahabat anak-anak yang disebut “cacat”, karena kami merasa bahwa mereka sama seperti kami, walaupun mereka tidak dapat berlari dan berbicara. Kami adalah sahabat bagi orang asing, yang dipulangkan secara paksa ke negeri mereka, kendati kerap mereka tidak memiliki rumah. Kami adalah sahabat alam, sahabat yang sejati, bukan mereka yang membakar hutan dan mencemari laut.
Kami banyak, tetapi tidak semuanya sama. Kami berasal dari warna kulit dan umur yang berbeda, tetapi tidak untuk memerangi satu sama lain.
Kami berkomitmen untuk tumbuh dewasa bersama-sama dan tidak membiarkan orang kejam mencuri masa kecil dari anak-anak.
Kelihatannya sulit, tapi mudah. Kami sanggup melakukan banyak hal dengan s emua warna.
Putih: kami membersihkan dunia. Merah: persahabatan dan solidaritas.
Kuning: matahari yang menyatukan. Hijau: rerumputan tempat kami bermain.
Biru: seperti malam yang tidak menakutkan lagi.
Inilah warna masa depan. Inilah warna=-warna Tuhan.









SD Budi Mulia berada di dalam komplek Desa Putera dan berada dalam satu lokasi dengan SMP Budi Mulia. Sekolahan ini menampung anak-anak panti Asuhan Desa Putera yang bersekolah di tingkat SD. Selain itu, sekolah SD Budi Mulia juga menerima dan mendidik anak didik dari luar panti asuhan.
SMP Budi Mulia berada di dalam komplek Desa Putera. Sekolahan SMP berada pada sisi selatan dengan suasana yang sejuk dan nyaman untuk proses belajar mengajar.
Sebagai sarana penunjang pendidikan anak asuh, dibangunlah secara bertahap sarana pendidikan. Pada tahun 1947 didirikan Sekolah Rakjat Desa Poetra, tidak hanya sebagai tempat belajar anak-anak Panti Asuhan, namun juga masyarakat sekitar. Selanjutnya pada tahun 1950, didirikan Sekolah Guru Bawah (SGB) Desa Putra oleh Br. Juvenalis. Dengan 15 orang murid, awal dari sekolah lanjutan di Desa Putera. Karena adanya perubahan sistem persekolahan yang di terapkan pemerintah, maka SGB terpaksa harus ditutup pada tahun 1960. sebagai gantinya adalah didirikan SMP Desa Putera tanpa kehilangan subsidi dari pemerintah.
Pada mulanya SMKG Desa Putera hanya digunakan untuk pelatihan siswa tapi pada perkembangan selanjutnya SMKG Desa Putera memberanikan menerima order cetakan. Keuntungan yang diterima di subsidi silang untuk menekan biaya praktikum siswa, perawatan mesin, kesejahteraan guru/instruktur dan karyawan unit percetakan serta sebagian disimpan untuk membeli mesin-mesin baru.
Karya kesehatan di Desa Putera dimulai oleh Br. Hypolitus, BM yang suka menolong orang-orang kampung melalui pengobatan penyakit ringan. Pada tahun 1960 pemerintah memberikan ijin secara resmi untuk membuka poliklinik. Seiring dengan perjalanan waktu, jumlah pasien yang datang ke poliklinik semakin banyak, maka poliklinik Desa Putera diperluas lagi dan pada tahun 1973 statusnya berubah menjadi Puskesmas (Health Centre). Waktu berjalan terus hingga saat ini pelayanan kesehatan tersebut semakin dilengkapi dengan peralatan yang memadai seperti peralatan rontgen dan kamar-kamar pasien yang memadai. Untuk itu statusnya bukan lagi puskesmas tetapi telah berubah menjadi Balkesmas.Kehadiran Balkesmas di Desa Putera dapat memberikan pelayanan kesehatan kepada anak-anak panti asuhan dan masyarakat sekitar, bahkan datang juga pasien dari tempat-tempat jauh khususnya pasien penderita TBC. Kini Balkesmas Desa Putera buka 24 jam


