Sejarah Panti Asuhan Desa Putera
Tahun 1947 Indonesia baru saja merdeka. Belum banyak yang bisa dilakukan oleh sebuah Negara yang belum genap berumur 2 tahun untuk membenahi segala sesuatu yang porak poranda akibat perang pada tahun-tahun sebelumnya. Politik, ekonomi, pendidikan, keamanan, masih belum tertata. Di banyak Negara di dunia , perang juga membawa dampak yang selalu sama : banyak kehilangan tempat tinggal, kehilangan anggota keluarga dan anak-anaklah yang paling menderita karena keadaan ini.
Di Indonesia, di Batavia dan sekitarnya saja sudah ribuan anak yang terlantar. Kebanyakan dari mereka kehilangan orang tua sehingga terpaksa hidup menggelandang dan mengemis di jalan-jalan dengan tubuh telanjang. Kondisi memprihatinkan ini menggugah hati Mr. J.E.Ysebaert, Residen Batavia. Ia ingin agar anak-anak yang sebagian besar telanjang itu mendapat tempat penampungan. Keinginannya itu lalu dibicarakan dengan Mgr.Willekens, Vikaris Apostolik Batavia karena panti-panti asuhan yang ada tidak dapat menampung mereka lagi. Keinginan Mr Ysebaert ini disampaikan oleh Mgr. Willekens kepada Mr. A. Bogaardt, Pimpinan Panti Asuhan Vincentius. Mr. A. Bogaardt bersedia menampung anak-anak itu asalkan disediakan tempat penampungan dan tenaga untuk mengurusnya.
Awal bulan April 1947, Mr. Ysebaert menemui Prof. Dr.P.M. Van Wulfften Palthe, Pimpinan Persatuan Perawat Orang Sakit Jiwa untuk meminjam sebidang tanah yang ada bangunannya. Oleh Prof. Van Wulfften diusahakan sebuah tempat di desa Srengseng Sawah, Lenteng Agung yang berupa bangsal-bangsal yang dulunya untuk merawat orang sakit jiwa. Untuk mendapatkan tenaga pengelola, Mgr. Willekens kemudian menghubungi Kongregasi Budi Mulia dan didatangkanlah Br Corbinianus untuk menjadi Direktur dan Br Mattheus sebagai pembantu. Di bawah Pimpinan dan sumber dana dari Vincentius, sebuah tempat penampungan untuk anak-anak terlantar sedikit demi sedikit mulai dibangun. Bangunan dari bambu untuk tempat tinggal para Bruder mulai didirikan. Tak lama setelah tempat dan tenaga pengelola tersedia, pada tanggal 17 Juni didatangkanlah 100 anak, yang diambil dari jalanan dan dari tempat hubian pengemis di Rustenburg. Mereka ini penghuni pertama tempat penampungan yang baru. Selain anak-anak itu juga didatangkan pakaian bekas , selimut dan bahan makanan, Dari pakaian bekas itu, penduduk sekitar desa Srengseng Sawah membantu mendaur ulang sehingga menjadi pakaian anak-anak.
Tiga hari kemudian didatangkan lagi 30 anak dari Rustenburg dan 120 anak dari daerah hunian pengemis di Rawa Badak, Tanjung Priok . Usia mereka agak lebih besar sehingga tak lama kemudian mereka melarikan diri.
SEBUAH RUMAH YATIM
Selama kurang lebih dua bulan, usaha mendirikan sebuah tempat penampungan untuk anak-anak terlantar sudah menampakkan bentuknya, yaitu sebuah rumah yatim piatu. Kemudian dipilihlan sebuah nama untuk menamai rumah penampungan itu. Akhirnya disepakati, Rumah Yatim Piatu Lenteng Agung diubah menjadi “Desa “ dan “Pemuda “ menjadi “ Putera”. Pada tanggal 30 Juni 1947 Desa Putera diresmikan, dihadiri oleh pengurus Vincentius, para pendirinya, para pejabat pemerintahan, Ny. Van Mook, wakil instansi dan Palang Merah, Jawatan Sosial, Pendidikan, Kesehatan, Tentara, juga Lurah Srengseng Sawah.
Di Desa Putera, anak-anak itu belum punya kegiatan apa-apa. Sepanjang hari anak-anak yang masih kecil hanya bermain-main. Tentu saja keadaan seperti ini tidak akan dibiarkan. Mereka diberi latihan kerja agar nantinya bisa mandiri. Sedikit demi sedikit sarana latihan kerja dibangun. Pada bulan Juli, mulai didirikan bengkel untuk pertukangan besi dan kayu. Dibawah Pimpinan Br Mattheus, dibuka pula latihan menjilid buku. Usaha peternakan juga dimulai, dengan memelihara satu ekor sapi, dua ekor kuda, 25 ekor itik dan sepuluh ekor ayam. Sementara itu lewat Palang Merah, dari Cilendek, Bogor didatangkan sebanyak 109 anak. Mereka ini bukan anak-anak kecil. Mereka sudah terlalu lama hidup bebas menggelandang tanpa aturan seperti yang dianut oleh masyarakat pada umumnya. Sehingga aturan-aturan yang diterapkan di Desa Putera dirasakan sebagai beban yang membuat hidup mereka tidak nyaman. Oleh karena itu banyak diantara mereka yang melarikan diri pada malam hari sambil membawa barang-barang apa saja yang bisa dibawa. Sebagian dari mereka juga mencuri di rumah-rumah penduduk sekitar. Hal ini membuat penduduk merasa tidak tenang dan tidak senang dengan adanya Desa Putera. Tetapi keadaan seperti ini tidak berlangsung lama.
Bersamaan dengan pembenahan yang terus menerus dilakukan, diusahakan pula pendidikan untuk mereka. Membaca, menulis dan pengetahuan lain diajarkan kepada mereka oleh Br Gerrad. Diantara anak-anak yang diajar, ada yang sudah pernah bersekolah. Anak-anak yang sudah pernah sekolah ini setiap hari mendapat “ refreshing “ untuk mengingat kembali pelajaran yang pernah mereka peroleh. Setelah itu merekalah yang menjadi guru bagi anak lain yang belum pernah sekolah. Kelas-kelas mulai dibangun. Setiap hari anak-anak itu belajar dikelas yang sudah ada, atau mana saja di tempat-tempat yang terbuka. Untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, dari bengkel, pertukangan kayu dibuatlah peralatan belajar dan bangku-bangku dari bambu. Selain itu usaha melatih anak-anak untuk bekerja masih terus ditambah. Pada bulan Oktober mulai dibuka Perkebunan, yaitu perkebunan kelapa dan jeruk. Setiap pagi anak-anak pergi ke kebun dengan membawa cangkul untuk berkebun
BERKEBANGNYA PENDIDIKAN
Tiga tahun berlalu. Br Gerrad tidak lagi sendirian. Didampingi oleh Br. Nerius dan Br Macedonius, mereka terus-menerus berusaha meningkatkan mutu pendidikan. Sistem pendidian yang semula terlampau bebas sedikit demi sedikit mulai berubah, meskipun pada mulanya sangat sulit. Pada bulan Desember 1950 dibukalah kelas pertama dengan 15 orang murid. Yaitu sekolah untuk mendidik calon guru Sekolah Rendah ( OVO = pendidikan guru selama dua tahun setelah tamat SR ). Keuskupan melihat usaha mendidik calon guru ini cukup baik sebagai karya misi, yaitu mendidik anak-anak untuk menjadi guru Katolik yang baik. Pendidikan yang diselenggarakan oleh Desa Putera dimintai pula oleh orang di luar Desa Putera. Namun dengan adanya perkembangan ini belum berarti berakhirnya persoalan. Anak-anak yang didatangkan sangat beragam latar belakangnya. Sementara ada anak yang sudah maju dengan bersekolah dan latihan kerja, ada anak-anak lain yang terus menerus melarikan diri. Dari 1.000 anak yang ditampung, sekitar 700 anak yang pergidengan diam-diam. Masalah lainpun muncul, yaitu pada bulan Oktober 1951 Br Hypolitus yang baru mulai bekerja menggantikan Br Nerius dan Br Macedonius menghadapi kenyataan buruk. Empat puluh orang laki-laki bersenjata datang pada malam hari, minta agar Br Corbinianus, Br Mattheus dan Br Hypolitus menyerahkan barang-barang yang mereka minta. Ketiga bruder ini menolak. Akibatnya mereka dipukul dan dikurung di ruang kantor, sementara itu para perampok mengambil barang-barang dan pakain dalam jumlah besar.
Pengangkutan anak-anak jalanan akhirnya dihentikan, dan usaha meningkatkan mutu di semua bidang terus-menerus dilakukan. Bersamaan dengan usaha meningkatkan mutu pendidikan, kualitas gedung juga mulai diperbaiki. Bangunan-bangunan yang terbuat dari bamboo diganti dengan bangunan-bangunan batu yang lebih kuat. Gedung tempat tinggal para bruder dan gedung sekolah bukan lagi bangunan sederhana dari bambu. Jumlah tenaga pengelola dan jurusan sekolah pun ditambah. Tahun 1952 Br Theodorus datang ke Desa Putera sebagai Pimpinan rumah. Ketika itu Br Juvenalis sudah memulai membuka Sekolah Guru Bawah ( SGB ), yang kemudian diserahkan kepada Br Bernardino dengan jumlah murid 172 orang. Sekolah lain yang sudah berjalan adalah Sekolah Rendan dan Sekolah Rendah Pertukangan yang dikelola oleh Br Tethard dan Sekolah Rendah Pertukangan yang dipimpin oleh Br Theodorus. Sekolah-sekolah ini tidak hanya untuk anak-anak Desa Putera, tetapi juga dibuka untuk umum. Selain itu juga ada kursus agama yang dikelola oleh Br Pancraitus dan ada kursus untuk melanjutkan sekolah bagi anak-anak Desa Putera yang pandai. Bentuk Desa Putera sedikit demi sedikit mulai berubah, yaitu sebuah asrama besar yang dilengkapi dengan sekolah, bengkel yang terdiri dari pertukangan besi, pertukangan kayu, jahit, pertukangan bambu, pertanian, kapel serta sebuah klinik yang dikelola oleh Br Hypolitus.
BERUBAH DAN BERTUMBUH
Pada tahun 1960 Sekolah Guru Bawah yang sudah mendapat subsidi dari pemerintah terpaksa ditutup, karena da perubahan system persekolahan yang diterapkan oleh pemerintah. Pemerintah menghendaki adanya Sekolah Menengah dan Sekolah Guru yang lebih tinggi, yaitu diatas Sekolah Menengah Pertama. Bulan Agustus 1961, Sekolah Menengah Desa Putera resmi dibuka untuk menggantikan SGB, tanpa kehilangan subsidi dari pemerintah.
Pada bulan Oktober tahun 1963, Desa Putera terbakar. Seluruh atap bangunan rusak sehingga hamper semua kegiatan terhambat. Segera berita mengenai kebakaran tersiar di seluruh kota dan bantuanpun mengalir. Pada bulan Pebruari 1964 rumah-rumah Bryder sudah dapat dipergunakan lagi, dan kelas-kelas mulai diperluas.
Usaha penjilidan buku telah diperluas oleh Br Basilides. Dari. Dari beberapa perusahaan di kota, usaha ini mendapat sumbangan berupa beberapa buah mesin cetak kecil. Dengan mesin cetak ini, dipikirkan kemungkinannya untuk membuka latihan ketrampilan di bidang percetakan bagi anak-anak asrama.
Untuk memanfaatkan mesin cetak itu, Br Corsini dan Br Basilides mencoba mengajar duabelas adak Desa Putera yang sedang belajar menjilid buku. Kepada duabelas anak ini diajarkan bagaimana membuat kartu nama dan kartu undangan . Melihat hasilnya, Br Basilides berpikir tentang kemungkinan membuka sekolah percetakan yang lebih besar. Pada tahun 1966 ia mencari keterangan pada CEBEMO ( Badan perantara pembiayaan karya bangunan ) dan Mr. Verhaak, seorang ahli di bidang Grafika datang ke Desa Putera untuk membuat rencana dan permohonan bantuan. Pimpinan Provinsi Budi Mulia di Jakarta yang melihat hasil percetakan yang meskipun masih kecil, meminta bantuan pada Bruder Provinsial di Belanda untuk mendirikan sebuah percetakan kecil yang akan menjadi sumber penghasilan bagi provinsi Indonesia. Br. Prov. Hugolinus setuju dan menawarkan mesin –mesin percetakan Juvenat di Vucht, Maria Oord. Tahun 1967 Br. Martin Dol, seorang ahli di bidang Grafika didatangkan ke Desa Putera. Pada tahun 1968 di bulan Maret, Br Eulogus dikirim ke Desa Putera dengan membawa mesin-mesin cetak, sekaligus menjadi “ Pekerja Tamu “. Pada tahun itu juga, ijin mendirikan sekolah grafika pun diperoleh. Sekolah Tehnik Grafika pun dimulai tanpa dilengkapi mesin, karena pengiriman mesin dan pemasangan mesin-mesin itu butuh waktu lama. Baru pada tanggal 22 Januari 1971, mesin-mesin itu dapat digunakan. Satu tahun kemudian, pada tanggal 11 April 1972, sekolah grafika telah memeproleh ijin operasi dan diresmikan dengan nama Sekolah Tehnik Menengah Grafika.
Tidak hanya sekolah yang terus tumbuh dan maju. Klinik yang semula dibuka oleh Br Hypolitus untuk melayani kesehatan anak-anak asrama Desa Putera pun terus berkembang, Pasien tidak hanya anak-anak asrama, tetapi penduduk sekitar pun berdatangan. Karena usaha ini belum memperoleh ijin dari Kementrian Kesehatan Br Hypolitus menjalankan klinik ini diam-diam. Pasien yang terus bertambah,praktek poliklinik diselenggarakan di gedung yang sudah baik, yaitu gedung bekas novisiat. Untuk meningkatkan poliklinik ini, pengelolaannya diserahkan kepada Yayasan Melania, tetapi pimpinan tetap dipegang oleh Br Hypolitus. Para suster dari Yayasan Melania dan dokter didatangkan. Mereka dibuatkan tempat tinggal supaya bisa bekerja di poliklinik setiap hari. Tahun 1974 poliklinik mendapat status Pusat Kesehatan Masyarakat, yang melayani pengobatan bagi penduduk sekitar. Pusat Pelayanan Kesehatan ini terus berkembang dengan menambah bagian kebidanan dan bagian gigi, serta dilengkapi dengan mobil ambulans.
Tahun demi tahun berlalu. Di usianya yang semakin matang, Desa Putera menemukan bentuknya yang kian jelas : asrama, sekolah, kapel, percetakan, Balai Kesehatan Masyarakat dan bengkel. Bengkel kayu dan bengkel besi tetap dipertahankan meskipun tidak menerima pesanan dari luar. Peternakan ditutup dan perkebunan yang mulai teratur dihidupkan kembali, tetapi banyak hal yang masih dibutuhkan untuk mengembangkannya. Menempati tanah bekas peternakan, Perkebunan ini diusahakan, disamping itu dibangun juga kolam ikan. Usaha di bidang percetakan terus berkembang dan sejak tahun 1993 dilengkapi dengan Graphic Training Centre, yaitu tempat pelatihan bagi anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan formal grafika.






SD Budi Mulia berada di dalam komplek Desa Putera dan berada dalam satu lokasi dengan SMP Budi Mulia. Sekolahan ini menampung anak-anak panti Asuhan Desa Putera yang bersekolah di tingkat SD. Selain itu, sekolah SD Budi Mulia juga menerima dan mendidik anak didik dari luar panti asuhan.
SMP Budi Mulia berada di dalam komplek Desa Putera. Sekolahan SMP berada pada sisi selatan dengan suasana yang sejuk dan nyaman untuk proses belajar mengajar.
Sebagai sarana penunjang pendidikan anak asuh, dibangunlah secara bertahap sarana pendidikan. Pada tahun 1947 didirikan Sekolah Rakjat Desa Poetra, tidak hanya sebagai tempat belajar anak-anak Panti Asuhan, namun juga masyarakat sekitar. Selanjutnya pada tahun 1950, didirikan Sekolah Guru Bawah (SGB) Desa Putra oleh Br. Juvenalis. Dengan 15 orang murid, awal dari sekolah lanjutan di Desa Putera. Karena adanya perubahan sistem persekolahan yang di terapkan pemerintah, maka SGB terpaksa harus ditutup pada tahun 1960. sebagai gantinya adalah didirikan SMP Desa Putera tanpa kehilangan subsidi dari pemerintah.
Pada mulanya SMKG Desa Putera hanya digunakan untuk pelatihan siswa tapi pada perkembangan selanjutnya SMKG Desa Putera memberanikan menerima order cetakan. Keuntungan yang diterima di subsidi silang untuk menekan biaya praktikum siswa, perawatan mesin, kesejahteraan guru/instruktur dan karyawan unit percetakan serta sebagian disimpan untuk membeli mesin-mesin baru.
Karya kesehatan di Desa Putera dimulai oleh Br. Hypolitus, BM yang suka menolong orang-orang kampung melalui pengobatan penyakit ringan. Pada tahun 1960 pemerintah memberikan ijin secara resmi untuk membuka poliklinik. Seiring dengan perjalanan waktu, jumlah pasien yang datang ke poliklinik semakin banyak, maka poliklinik Desa Putera diperluas lagi dan pada tahun 1973 statusnya berubah menjadi Puskesmas (Health Centre). Waktu berjalan terus hingga saat ini pelayanan kesehatan tersebut semakin dilengkapi dengan peralatan yang memadai seperti peralatan rontgen dan kamar-kamar pasien yang memadai. Untuk itu statusnya bukan lagi puskesmas tetapi telah berubah menjadi Balkesmas.Kehadiran Balkesmas di Desa Putera dapat memberikan pelayanan kesehatan kepada anak-anak panti asuhan dan masyarakat sekitar, bahkan datang juga pasien dari tempat-tempat jauh khususnya pasien penderita TBC. Kini Balkesmas Desa Putera buka 24 jam


