Pendiri Kongregasi Bruder Budi Mulia
PASTOR STEPHANUS MODESTUS GLORIEUX
Pendiri Kongregasi Bruder Budi Mulia
Glorieux dilahirkan di Saint-Denis 3 Mei 1802 sebagai anak kedua dari keluarga petani kaya. Dia mengikuti pendidikan dasar di St Denis dan melalui bagian di sekolah tinggi di Roeselare, Sint-Niklaas
dia berakhir sampai di seminari kecil di mana ia melanjutkan studi SMA-nya. Dia menyelesaikan seminari tinggi di Gent dan Mechelen tahun 1825, dan ia ditahbiskan sebagai imam diosesan. Setelah ditahbiskan Pantor Stephanus Modestus Glorieux ditugaskan sebagai Pastor kapelan di Ronse.
Sebagai seorang pastor di Ronse, ia dihadapkan dengan kondisi kehidupan yang tidak manusiawi terhadap umatnya. Karena itu dia mencari akar permasalahan mengapa kemiskinan berkembang. Dia membuat rencana rencana gerakan sosial, berdasarkan pemgamatannya setelah mencari akar permasalahan maka Glorieux membuat rencana sebagai berikut: menciptakan lapangan kerja, mendidik dan memperi tempat kepada gelandangan dan orang-orang cacat, memberikan perawatan bagi yang sakit, tua dan mendirikan sekolah untuk anak-anak. Perhatiannya kepada orang miskin sangat luar biasa maka dia dijuluki Bapa Kaum Miskin.
Keuskupan sering salah pahan dengan rencana-rencana Glorieux. Bukan karena ia tidak mampu tetapi semua kegiatan dan rencananya membutuhkan banyak biaya. '. Masalah-masalah keuangan memang menjadi kendala tetapi Glroeieux yakin hal itu akan datang dengan sendirinya.Dia percaya pada penyelenggaraan Ilahi. Ruang bawah Gereja dirubah menjadi ruang perawatan orang sakit, bengkel tenun dan sekolahan untuk anak-anak miskin. Tidak lama setelah kegiatan ini berjalan, datang tenaga sukarela laki-laki dan perempuan untuk membantu Glorieux. Banyak relawan muda baik laki-laki maupun perempuan setiap hari datang membantu. Akhirnya Glorieux mendirikan kongregasi Bruder Karya Amal atau Bruder-bruder pekerja baik pada tahun 1830. Kemudian pada tahun 1845 Glorieux juga mendirikan kongregasi Suster Belas Kasih.
Kesulitan datang silih berganti, yang satu teratasi yang lain muncul. Tenaga-tenaga untuk membantu karya almal Glorieux telah tersedia dengan didirikannya kongregasi bruder dan Suster. Masalah yang selalu muncul adalah tentang keuangan. Disamping diperlukan biaya untuk pengelolaan karya amal, juga diperlukan untuk biaya pendidikan para Bruder dan Suster. Banyak teman-teman pastornya merasa kuatir akan sepak terjang Glorieux bahkan tidak sedikit yang mencemoohkan. Namun banyak juga yang mendukungnya, bahkan membantu Glrieux untuk mencarikan dana. Salah satunya adalah Antonia Depoorter seorang pengusaha tekstil yang setia membantu pendanaan untuk proyek-proyek Glorieux. Beban semakin berat proyek-proyek untuk orang miskin semakin bertambah sehingga semakin banyak memerlukan biaya. Glorieux nekat bahkan berani pinjam uang kepada orang-orang dekatnya. Glorieux semakin dililit utang karena untuk membiayai proyeknya yang besar. Sementara itu Glorieux terus melibatkan masyarakat untuk membantu khususnya menghubungi orang-orang yang kaya untuk dimintai bantuan dana. Karena semakin banyak masalah muncul dan banyak hutangnya, Glorieux dipindahkan ke Dendermonde dan tidak boleh lagi berhubungan dengan proyek-proyeknya. Glorieux juga tidak boleh lagi mempimpin kongregasi bruder dan Suster. Semuanya diambil alih oleh Keuskupan.
Pada tahun 1852 Glorieux diberi tugas sebagai Pembina suatu kongregasi di Dendermonde. Glorieux tinggal di dekat biara Suster Maricolen. Para suster ini berkarya dibidang pendidikan sekolah. Tugas Glorieux adalah mempersembahkan misa untuk para suster, menerima pengakuan dosa, memberikan meditasi serta konfrensi-konfrensi kepada para suster. Selanjutnya Glorieux juga mengajar para suster dan juga mengajar di sekolah. Hanya dua tahun Glorieux tinggal di Dendermonde karena pada tahun 1854 Uskup member tugas baru menjadi partor pembantu di Heldergem.
Di tempat yang baru ini, semangat Glorieux kembali berkobar. Glorieux memulai dengan mendirikan perkumpulan Vincensius, yang akan membantu karyanya untuk memperhatikan orang-orang miskin. Di tempat yang baru ini sudah ada kumpulan wanita-wanita muda yang akan mendirikan kongregasi baru. Glorieux mengajar calon-calon suster terasebut. Setelah mendapat restu dari Uskup, resmilah berdiri kongregasi Suster Yang Terkandung Tanpa Noda.
Pada hari pesta Santo Yusup, 19 Maret 1866 Glorieux mendapat tugas baru sebagai pastor di Smetlede. Di desa kecil Smetlede inilah menjadi tempat terakhir Glorieux mengabdikan hidupnya kepada gereja dan kepada masyarakat miskin. Umat paroki meyambutnya dengan gembira kedatangan Pastor Stephanus Modestus Glorieux, meskipun sudah tua dan sering sakit namun cukup memperhatikan umatnya khususnya yang miskin. Glorieux juga dekat dengan anak-anak kecil, maka dia sering mengajar anak sekolah minggu. Anak-anak itupun diijinkan bermain di kebun pastoran dan Glorieux sangat senang melihat anak-anak bergimbira.
Meski sudah tua dan sakit-sakitan, Glorieux tetap semangat melayani umatnya. Perhaiannya kepada orang miskin tidak pernah berhenti meskipun pindah-dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Pada suatu hari Br. Dominik datang berkunjung. Pada waktu itu ia melihat betapa miskinya pastoran tempat Glorieux tinggal. Makanan seadanya, fasilitas sangat sederhana. Setelah pulang dari tempat tinngal Glorieux, Br. Dominik menghadap Uskup dan menceritakan keadaan Pastor Stephanus Modestus Glorieux. Br. Dominik minta ijin Uskup agar diperbolehkan memberikan bantuan kepada Pastor S.M. Glorieux. Bapak Uskup menjawab: Aku sendiri juga sering kesana membantunya. Kalau mau membantu, jangan sekali-kali memberi uang kepada Glorieux sebab hari ini diberi uang hari ini juga uang itu diberikan kepada orang-orang miskin. Kalau mau membantu lebih baik berupa barang misalnya makanan atau pakaian.
Awal Nopember 1872 kesehatan Glorieux semakin menurun. Penyakit asma yang dideritanya membuat Glorieux tidak mampu lagi melayani umatnya. Glorieux kini tinggal bisa duduk di kursi. Sepanjang hari dia hanya bisa berdoa, mendoakan umat paroki, mendoakan kongregasi yang didirikannya dan mendoakan para donaturnya yang setia membantu. Semuanya dimohonkan berkat Tuhan. Tanggal 25 Nopember 1872 Glorieux menghadap Tuhan selamanya. Banyak orang melayat, masyarakat berbondong-bondong datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Bapa Glorieux. Jenazahnya dimakamkan dekat gereja paroki Smetlede. Pada tahun 1894 jenazah Glorieux dipindahkan ke Oostakker di pemakaman para Bruder di dalam kompleks biara induk. Di sanalah ia sekarang terbaring, di tengah-tengah para bruder putranya. Di sutu pula makamnya dihias dengan tulisan “DIA ADALAH BAPAK PARA MISKIN”
Sebutan nama Bapa Kaum papa dan miskin mewarnai karya-laryanya yang secara total membela kaum papa dan miskin. Kedua kongregasi yaitu Bruder-Bruder Santa Perawan Maria dari Lourdes dan Suster-Sister Belaskasih inilah yang meneruskan karya Glorieux Sang Pendiri. Di Indonesia kongregasi Bruder diberi nama Bruder Budi Mulia.






SD Budi Mulia berada di dalam komplek Desa Putera dan berada dalam satu lokasi dengan SMP Budi Mulia. Sekolahan ini menampung anak-anak panti Asuhan Desa Putera yang bersekolah di tingkat SD. Selain itu, sekolah SD Budi Mulia juga menerima dan mendidik anak didik dari luar panti asuhan.
SMP Budi Mulia berada di dalam komplek Desa Putera. Sekolahan SMP berada pada sisi selatan dengan suasana yang sejuk dan nyaman untuk proses belajar mengajar.
Sebagai sarana penunjang pendidikan anak asuh, dibangunlah secara bertahap sarana pendidikan. Pada tahun 1947 didirikan Sekolah Rakjat Desa Poetra, tidak hanya sebagai tempat belajar anak-anak Panti Asuhan, namun juga masyarakat sekitar. Selanjutnya pada tahun 1950, didirikan Sekolah Guru Bawah (SGB) Desa Putra oleh Br. Juvenalis. Dengan 15 orang murid, awal dari sekolah lanjutan di Desa Putera. Karena adanya perubahan sistem persekolahan yang di terapkan pemerintah, maka SGB terpaksa harus ditutup pada tahun 1960. sebagai gantinya adalah didirikan SMP Desa Putera tanpa kehilangan subsidi dari pemerintah.
Pada mulanya SMKG Desa Putera hanya digunakan untuk pelatihan siswa tapi pada perkembangan selanjutnya SMKG Desa Putera memberanikan menerima order cetakan. Keuntungan yang diterima di subsidi silang untuk menekan biaya praktikum siswa, perawatan mesin, kesejahteraan guru/instruktur dan karyawan unit percetakan serta sebagian disimpan untuk membeli mesin-mesin baru.
Karya kesehatan di Desa Putera dimulai oleh Br. Hypolitus, BM yang suka menolong orang-orang kampung melalui pengobatan penyakit ringan. Pada tahun 1960 pemerintah memberikan ijin secara resmi untuk membuka poliklinik. Seiring dengan perjalanan waktu, jumlah pasien yang datang ke poliklinik semakin banyak, maka poliklinik Desa Putera diperluas lagi dan pada tahun 1973 statusnya berubah menjadi Puskesmas (Health Centre). Waktu berjalan terus hingga saat ini pelayanan kesehatan tersebut semakin dilengkapi dengan peralatan yang memadai seperti peralatan rontgen dan kamar-kamar pasien yang memadai. Untuk itu statusnya bukan lagi puskesmas tetapi telah berubah menjadi Balkesmas.Kehadiran Balkesmas di Desa Putera dapat memberikan pelayanan kesehatan kepada anak-anak panti asuhan dan masyarakat sekitar, bahkan datang juga pasien dari tempat-tempat jauh khususnya pasien penderita TBC. Kini Balkesmas Desa Putera buka 24 jam


